M Malangkab.com
Wisata Religi & Budaya

Tradisi Bantengan

18 September 2026 · 1 kali dibaca

Tradisi Bantengan

Bantengan adalah kesenian tari rakyat khas wilayah pegunungan Malang Raya yang menampilkan gerakan meniru kegagahan banteng, dimainkan oleh dua orang penari di bawah rangka kepala dan tubuh banteng yang terbuat dari kayu, bambu, dan kulit atau kain. Kesenian ini banyak dijumpai di kecamatan-kecamatan lereng pegunungan Kabupaten Malang, dengan komunitas dan sanggar tradisional yang cukup dikenal berada di Kecamatan Karangploso (khususnya Dusun Supiturang, Desa Bocek), serta berkembang pula di Kecamatan Ngantang dan Pujon.

Asal-usul dan Perkembangan

Akar tradisi Bantengan dipercaya sudah ada sejak masa Kerajaan Singhasari, ketika berkembang tradisi pencak silat yang dipadukan dengan atraksi kuda dan hewan banteng sebagai simbol kekuatan dan keberanian. Kesenian ini mengalami perkembangan pesat pada era 1960-an, terinspirasi dari kesenian Kebo-keboan asal Ponorogo.

Setiap pertunjukan Bantengan biasanya dibuka dengan atraksi pencak silat, sebelum penari masuk ke dalam kostum kepala banteng dan menampilkan gerakan dinamis mengikuti tabuhan gamelan. Dalam banyak pertunjukan tradisional, unsur trans atau kesurupan (ndadi) juga menjadi bagian dari pertunjukan, menjadikan Bantengan bukan sekadar tarian hiburan tetapi juga ritual spiritual yang sarat makna kepercayaan lokal.

Pertunjukan Bantengan umumnya dipentaskan pada acara-acara adat seperti bersih desa, sedekah bumi, dan perayaan pernikahan di desa-desa pegunungan Kabupaten Malang, dan terus dilestarikan generasi muda melalui sanggar-sanggar seni.

Galeri

Galeri Tradisi Bantengan