Budaya dan Kesenian Tradisional
  • Profile
  • Β·
  • 392 kali dibaca

Budaya dan Kesenian Tradisional

Kesenian Bantengan: Warisan Tradisi Agraris

Bantengan adalah kesenian pertunjukan berbentuk kepala banteng yang dimainkan dengan gerakan atraktif diiringi gamelan, diyakini berakar dari tradisi masyarakat agraris di kawasan Malang Raya. Sejumlah sumber budaya lokal mengaitkan asal-usulnya dengan era Kerajaan Singhasari dan Majapahit, meski klaim ini lebih bersifat tradisi lisan ketimbang catatan sejarah yang terverifikasi ketat. Kesenian ini tersebar luas di Kabupaten Malang, dengan beberapa grup yang cukup dikenal seperti Alam Kibar dan Putra Jaler Lembu Gimblah.

Jaranan dan Kesenian Rakyat Pendamping

Bantengan biasanya tidak berdiri sendiri, melainkan tampil berdampingan dengan kesenian rakyat lain seperti jaranan (kuda lumping), karawitan, dan terbang jidor dalam rangkaian acara adat desa. Dalam tradisi bersih desa di Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung misalnya, pertunjukan bantengan dan jaranan ditampilkan bersamaan sebagai upaya generasi muda melestarikan warisan budaya leluhur, sekaligus menjadi tontonan yang dinanti warga setiap tahun.

Upacara Adat dan Larung Sesaji di Pesisir Selatan

Masyarakat pesisir selatan Kabupaten Malang memiliki tradisi larung sesaji atau labuhan sebagai ungkapan syukur atas hasil laut dan permohonan keselamatan bagi nelayan. Tradisi ini berlangsung rutin di beberapa titik, antara lain Pantai Jonggring Saloko di Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo; Pantai Ngliyep; Pantai Kondang Merak; serta melibatkan warga Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur. Prosesi umumnya diawali arak-arakan sesaji dari balai desa menuju pantai, berupa tumpeng, hasil bumi, dan bunga yang dihanyutkan ke laut disertai doa dan gamelan.

Catatan tentang Boso Walikan

Boso walikan β€” bahasa gaul yang dibentuk dengan membalik susunan huruf kata β€” memang identik dengan identitas masyarakat Malang Raya secara umum dan masih dipakai sehari-hari oleh warga di wilayah kabupaten maupun kota. Namun perlu dicatat bahwa sejarah asal-usulnya lebih spesifik terkait perjuangan kemerdekaan di wilayah perkotaan pada 1949, digagas oleh laskar Gerilya Rakyat Kota untuk mengelabui mata-mata Belanda di Kota Malang. Karena itu, boso walikan lebih tepat disebut sebagai identitas budaya Malang Raya secara umum, bukan atribut yang lahir khusus dari Kabupaten Malang.

Foto pertunjukan Bantengan pada Bersih Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung β€” Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.

Bagikan: