Hari Raya Karo adalah perayaan besar masyarakat Tengger, termasuk warga Desa Ngadas di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Sebuah kajian di Jurnal Civics (2023) menyebutnya sebagai hari raya terbesar kedua setelah Yadnya Kasada. Perayaan ini dimaknai sebagai ungkapan syukur atas berkah sepanjang tahun, dan diikuti warga lintas agama, baik Hindu, Islam, maupun Buddha.
Menurut Tugu Jatim, Karo digelar sekitar dua bulan setelah Kasada dan berlangsung 12 hari, ditambah dua hari untuk pembukaan dan penutupan. The Jakarta Post pada 2015 menulis rentang pelaksanaan sekitar 15 hari pada bulan Karo menurut kalender Tengger, dengan jadwal tiap desa yang bisa berbeda. Karena tanggalnya mengikuti penanggalan adat, jadwal Gregorian setiap tahun berubah.
Rangkaian acaranya, berdasarkan JatimTimes dan sumber-sumber di atas, antara lain kenduri di balai desa yang diawali doa oleh dukun desa, tarian sodoran atau tari karo sebagai penghormatan kepada leluhur dan tamu, serta nyadran atau ziarah ke makam leluhur sambil menyantap bekal bersama. Puncaknya adalah ojung, adu ketangkasan memakai cambuk rotan yang dilakukan laki-laki dewasa. Di sela perayaan juga tampil kesenian seperti jaran kencak, jaran kepang, dan bantengan.
Ngadas berada di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada ketinggian sekitar 2.100 meter, dengan udara sangat dingin di malam hari. Karo adalah upacara keagamaan dan adat warga, bukan atraksi wisata. Tamu sebaiknya menghubungi perangkat desa, berpakaian sopan, mengikuti arahan warga, dan tidak masuk ke area doa atau makam tanpa izin.
