Keraton Gunung Kawi berada di Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, di lereng tenggara Gunung Kawi. Sebuah panduan wisata menyebut ketinggiannya sekitar 1.167 mdpl. Meski disebut keraton, tempat ini bukan istana, melainkan kawasan pertapaan dan petilasan di tengah hutan pinus yang dikunjungi para peziarah dan wisatawan. Lokasinya berbeda dari Pesarean Gunung Kawi di Kecamatan Wonosari, yang dikenal sebagai makam Eyang Djoego dan Eyang Imam Soedjono; Wikipedia menyebut keraton ini berada sekitar 5 km di atas pesarean tersebut.
Asal-usul yang diceritakan
Wikipedia menyebutnya sebagai petilasan Prabu Sri Kameswara, sementara cerita lain mengaitkannya dengan Mpu Sindok. Dalam liputan detikJatim, sejarawan Malang Suwardono menilai kaitan itu sebagai cerita lisan masyarakat dan menyatakan belum ada prasasti atau peninggalan arkeologi yang menghubungkan Mpu Sindok dengan lereng timur Gunung Kawi. Di kawasan ini terdapat makam Eyang Tunggul Manik dan istrinya; angka tahun 1115 pada nisan berasal dari keterangan penjaga, bukan hasil kajian. Sebuah panduan wisata menyebut keraton sempat ditutup sekitar 1965 dan dibuka kembali pada 1974.
Bangunan dan suasana
Bangunan tertinggi di kompleks ini adalah Sanggar Pamujan, yang diteliti dalam sebuah kajian arsitektur sebagai bangunan pertapaan. Wikipedia mencatat adanya tempat ibadah dari berbagai agama di kawasan ini, dan sebuah panduan wisata menyebut wihara yang dibangun setelah kemerdekaan bagi pengunjung keturunan Tionghoa. Kawasan ini juga menjadi titik awal pendakian menuju Puncak Pitrang dan Batu Tulis.
Karena banyak orang datang untuk berdoa dan bertapa, pengunjung diharapkan bersikap tenang dan sopan serta menghormati tata cara setempat. Tarif dan jam buka dapat berubah, jadi sebaiknya dicek ulang sebelum berkunjung.
