Ojung, kadang ditulis ujung, adalah adu ketangkasan dua laki-laki dewasa yang saling menyabetkan rotan ke tubuh lawan. Kesenian ini dikenal di beberapa daerah di Jawa Timur. Deskripsi berkas di Wikimedia Commons menyebut bahwa Ojung berasal dari Sumenep dan menyebar ke sejumlah wilayah, salah satunya komunitas Tengger di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Di Ngadas, Ojung dilakukan pada rangkaian Hari Raya Karo. JatimTimes menyebutnya sebagai puncak perayaan, sedangkan Jakarta Post (2015) mencatat bahwa pertarungan ini dimaksudkan untuk keselamatan serta menolak bala bagi desa. Peserta tidak boleh menyimpan dendam setelah bertarung; salah satu petarung dalam laporan itu menyebutnya sebagai bagian dari bentuk pengabdian adat. Tujuan Ojung di tiap daerah berbeda: di tempat lain ia dikaitkan dengan permohonan hujan atau ukuran kedewasaan pemuda.
Pertunjukannya digelar di tengah kerumunan warga di lapangan atau jalan desa. Dua petarung bertelanjang dada saling menyabet dengan rotan, dan foto-foto dokumentasi memperlihatkan penonton mengelilingi arena. Intinya adalah menjaga keberanian dan kebersamaan warga, bukan mencari kemenangan atau permusuhan.
Ojung adalah bagian dari upacara adat, sehingga waktunya mengikuti kalender Karo yang berubah tiap tahun. Penonton diminta menjaga jarak aman, mematuhi arahan panitia desa, dan menghormati prosesi. Informasi jadwal terbaru sebaiknya ditanyakan kepada perangkat Desa Ngadas.
