Labuhan atau Larung Sesaji Ngliyep adalah upacara adat tahunan warga Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, yang dilangsungkan di Pantai Ngliyep. Menurut laporan JatimTimes (2023), tradisi ini bermula dari wabah penyakit di desa sekitar tahun 1913. Warga sakit dan sebagian meninggal dalam waktu singkat, dan kejadian itu terjadi pada bulan Sapar sehingga dikenang sebagai pagebluk Saparan.

Disebutkan bahwa kepala desa dan sesepuh saat itu, Eyang Kiai Tholib dan Eyang Atun, bersemedi di Gunung Kombang lalu memperoleh petunjuk untuk menggelar labuhan di Pantai Ngliyep. Setelah ritual dijalankan, wabah berangsur reda. Ini adalah cerita yang dituturkan turun-temurun, sehingga dapat berbeda dalam rincian di tiap penuturan.

JatimTimes menulis bahwa sejak itu upacara diadakan setiap 14 Mulud menurut hitungan Aboge, yang sering selisih sehari dengan kalender pemerintah. Sumber lokal lain menyebut tanggal 13 Mulud, jadi tanggal pastinya sebaiknya ditanyakan kepada pemerintah desa. Sesajinya berupa kepala hewan seperti kambing atau sapi beserta kulit, kaki, dan sebagian darahnya, sedangkan bagian lain hewan umumnya dimasak untuk kenduri bersama. Perlengkapan labuhan disiapkan di Rumah Lumbung peninggalan Eyang Atun di Dukuh Krajan.

Pantai Ngliyep sendiri dikenal dengan tebing karang dan karang bolongnya, dan sudah memiliki artikel tersendiri di situs ini. Pengunjung yang ingin menyaksikan labuhan perlu menghormati prosesi, mengikuti arahan panitia dan tokoh adat, serta menjaga kebersihan pantai. Gelombang laut selatan kuat, jadi berhati-hatilah dan jangan mendekati bibir air saat prosesi berlangsung.