Wayang Topeng Malangan, sering pula disebut Topeng Malang, adalah seni pertunjukan khas Malang Raya yang memadukan drama, tari, dan iringan gamelan. Para penarinya mengenakan topeng kayu dan membawakan tokoh-tokoh dalam sebuah lakon. Pemerintah menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014. Di Kabupaten Malang, kesenian ini hidup di sejumlah kawasan seperti Jabung, Tumpang, Pakisaji, dan Sumberpucung (Jatiguwi).

Menurut uraian di Wikipedia bahasa Indonesia, jejak seni topeng di wilayah ini dikaitkan dengan masa yang sangat tua, dan pada 1938 peneliti Belanda Pigeaud mencatat puluhan perangkat topeng yang tersebar di berbagai desa. Setelah gejolak pada 1960-an banyak seniman berhenti tampil dan banyak perlengkapan hilang. Kesenian ini kemudian disebut ditemukan kembali di Jabung pada 1972, dan sebutan "Topeng Malang" makin umum dipakai sejak 1980-an.

Seni ini bukan sekadar tari bertopeng. Ia mencakup pedalangan, pembuatan topeng, penyiapan busana, karawitan, dan tembang sinden, sehingga para sesepuh memakai istilah "wayang topeng". Lakon yang kini paling sering dibawakan bersumber dari cerita Panji, kisah kerajaan Jawa Timur tentang Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji. Karakter topengnya beragam, dari tokoh halus seperti Panji hingga tokoh gagah seperti Klana dan Bapang. Tari Bapang bahkan menjadi bahan ajar bagi pelajar; pada Desember 2017 sekitar 5.000 pelajar dari Kabupaten Malang menarikannya bersama di Pantai Nganteb, Gedangan.

Untuk menyaksikan atau mempelajarinya secara langsung, pengunjung dapat menghubungi padepokan dan sanggar di Kabupaten Malang, misalnya Padepokan Asmorobangun di Pakisaji dan Padepokan Mangun Dharma di Tumpang. Jadwal pentas tidak tetap, jadi sebaiknya konfirmasi lebih dulu. Tantangan terbesar kesenian ini adalah regenerasi penari dan dalang, sehingga dukungan penonton dan pembelajar muda sangat berarti.