Masjid Bungkuk, yang secara resmi bernama Masjid At-Thohiriyah, berada di Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari. Wikipedia menyebutnya sebagai masjid tertua di Kabupaten Malang dan simbol penyebaran Islam di wilayah ini. Masjid berdiri di area Pondok Pesantren Miftahul Falah, Jalan Bungkuk, dan kompleksnya juga memuat makam pendirinya.

Pendirinya adalah KH Hamimuddin, yang dikenal sebagai Mbah Bungkuk, salah satu laskar Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa. Sejumlah media, termasuk Suara.com dan Wikipedia, menyebut pembangunannya sekitar tahun 1835, sedangkan artikel NU Online Jatim tidak menyebut tahun pasti. Menurut NU Online, tempat ibadah ini bermula dari sebuah langgar sederhana di tengah hutan, yang kemudian diperbaiki menjadi bangunan semi permanen dengan empat pilar kayu penyangga atap. Pada awalnya santrinya hanya dua orang; gubuk-gubuk santri berkembang menjadi pesantren yang hingga kini masih aktif.

Nama Bungkuk, menurut penuturan keluarga pengasuh yang dikutip NU Online, berasal dari cara beribadah sang kiai yang rukuk dan sujud lama, hingga warga sekitar menyebutnya demikian. KH Hamimuddin wafat pada 1850 dan dimakamkan di belakang masjid. Di area yang sama dimakamkan pula sejumlah tokoh keluarga pesantren, termasuk KH Mohammad Thohir (menantu beliau), serta KH Masjkur, Pahlawan Nasional. Makamnya disebut tidak pernah sepi peziarah dari berbagai daerah.

Karena masjid dan makam ini bagian dari lingkungan pesantren yang masih hidup, pengunjung diharapkan berpakaian sopan, menjaga ketenangan, dan menghormati jamaah, santri, serta peziarah. Informasi jadwal kegiatan sebaiknya ditanyakan kepada pengurus setempat.